BahteraBerita.com – Perjalanan jarak jauh saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 kerap diwarnai risiko kelelahan pengemudi. Salah satu ancaman paling berbahaya adalah microsleep, kondisi ketika otak tertidur sesaat tanpa disadari, meski mata tampak masih terbuka.
Microsleep dapat menyerang siapa saja, terutama saat mengemudi dalam waktu lama dengan kondisi jalan monoton. Dampaknya pun sangat fatal. Dalam kondisi microsleep selama tiga detik, ketika mobil melaju di kecepatan 100 km/jam, kendaraan bisa meluncur tanpa kendali sejauh 80 meter.
Microsleep Tidak Terjadi Tiba-tiba
Training Director Real Driving Centre (RDC), Marcell Kurniawan, menjelaskan bahwa banyak pengemudi melakukan kesalahan fatal karena kurangnya antisipasi terhadap kelelahan.
“Kebanyakan pengendara tidak berpikir panjang dan tidak membangun kebiasaan untuk mengidentifikasi serta menghindari potensi bahaya. Padahal ini sangat berisiko,” ujar Marcell, Selasa (16/12/2025).
Ia menegaskan, kondisi pengemudi harus dipastikan sehat secara fisik dan mental sejak awal hingga akhir perjalanan, termasuk memastikan tubuh tidak kelelahan.
Baca Juga: PLN Mobile Bikin Heboh! Kini Beli Motor Listrik Bisa dari Genggaman, Langsung Dapat Diskon Rp7 Juta!
Empat Kesalahan Fatal Pengemudi
Menurut Marcell, kesalahan pengemudi kerap terjadi karena:
Tidak mengantisipasi kelelahan
Memaksakan diri terus mengemudi
Mengabaikan waktu istirahat
Tidak memiliki pengemudi pengganti
Padahal, kebiasaan sederhana bisa mencegah microsleep sejak dini.
Tips Menghindari Microsleep Saat Perjalanan Nataru
Marcell menyarankan beberapa langkah penting agar pengemudi tetap aman selama perjalanan jauh:
Pastikan tidur cukup sebelum berangkat
Gunakan tandem pengemudi agar bisa bergantian saat lelah
Berhenti dan istirahat setiap 2 jam sekali
Jangan memaksakan diri meski target waktu masih panjang
Jaga kondisi tubuh tetap fit dari awal hingga akhir perjalanan
Microsleep Berbeda dengan Mengantuk Biasa
Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menjelaskan bahwa microsleep memiliki tahapan tertentu dan tidak terjadi secara mendadak.
“Di tiga sampai empat jam pertama, pengemudi mulai letih. Lalu masuk fase super letih dan ngantuk berat. Di fase itulah microsleep terjadi,” jelas Sony.
Ia menambahkan, kondisi duduk diam dalam waktu lama dapat mempercepat munculnya microsleep karena otak tidak lagi merespons dengan baik.
Sony juga menegaskan perbedaan mendasar antara mengantuk dan microsleep.
“Kalau mengantuk, yang tidur matanya. Tapi kalau microsleep, yang tidur itu otaknya,” tegasnya.
Karena itulah, microsleep jauh lebih berbahaya karena pengemudi sama sekali tidak menyadari kehilangan kendali.
Kunci Utama: Jangan Lawan Kelelahan
Para pakar sepakat, cara paling efektif mencegah microsleep adalah mengatur waktu istirahat dan tidak memaksakan diri. Jika rasa lelah mulai muncul, berhenti sejenak jauh lebih aman dibanding mengambil risiko di jalan.
Libur Nataru seharusnya menjadi momen menyenangkan bersama keluarga, bukan berakhir dengan tragedi akibat kelelahan saat berkendara.

