Ratusan Delegasi Pesantren se-Jateng Hadiri Temu Media Pondok Pesantren di PPFF Semarang

Ustadz Tasir
3 Min Read

 

 

Semarang — Lebih dari 350 delegasi dari 100 pondok pesantren se-Jawa Tengah menghadiri “Temu Media Pondok Pesantren se-Jawa Tengah” yang digelar di Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang, Sabtu (16/05/2026).

 

Mengusung tema “Menata Langkah, Menguatkan Arah Dakwah di Era Digital”, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus konsolidasi media pesantren untuk memperkuat dakwah digital yang lebih terarah dan profesional.

 

Keynote speaker oleh pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan Semarang, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., M.A

 

Acara disambut baik oleh pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan Semarang, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., M.A sebagai keynote speaker.

 

Kiai Fadlolan menegaskan bahwa syiar merupakan salah satu keistimewaan yang dimiliki umat Islam. Menurut beliau, perbedaan antara syiar dan ria terletak pada niatnya. Jika dilakukan untuk pamer, maka akan menjadi ria. Namun apabila diniatkan untuk menyebarkan ajaran Islam dan kebaikan, maka hal tersebut menjadi bagian dari syiar dakwah.

 

Beliau juga menyoroti tantangan dakwah di era digital saat ini. Menurutnya, berbagai konten kemaksiatan, kejahatan, dan hal-hal negatif begitu mudah tersebar dan bahkan dipamerkan di media sosial. Sementara itu, konten dakwah yang mampu mengimbangi arus negatif tersebut masih sangat kurang.

 

Karena itu, media pondok pesantren dinilai memiliki peran penting untuk memperbanyak konten-konten positif yang mampu meng-counter konten negatif di media sosial, sehingga dapat mengurangi bahkan menghilangkan pengaruh buruk yang beredar di ruang digital.

 

Selain itu, Kyai Fadlolan menjelaskan bahwa terdapat dua hal penting yang harus dimiliki sebuah institusi agar dapat berkembang dengan baik. Pertama adalah manajemen yang tertata dan profesional, sedangkan yang kedua adalah media publikasi atau media sosial yang baik, menarik, jelas, dan benar.

 

Beliau menegaskan bahwa masyarakat perlu mengetahui bagaimana sistem pendidikan di sebuah lembaga, bagaimana pengajarnya, apa yang diajarkan, hingga bagaimana aturan dan lingkungan pendidikannya.
Namun semua hal baik tersebut tidak akan dikenal luas tanpa adanya publikasi yang kuat.

 

Oleh sebab itu, menurut beliau, media pondok pesantren memiliki tugas besar untuk menyiarkan nilai, ajaran, dan kegiatan positif yang ada di pesantren kepada masyarakat luas.

 

Selain itu, hadir pula sejumlah narasumber lain di antaranya Ahmad Mundzir (NU Online), Arina Millataka (AISNU Jateng), dan Nilna Silma (pegiat media).

Forum ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya ekosistem media pesantren Jawa Tengah yang solid, kolaboratif, dan berdampak luas bagi masyarakat.

 

(Lintang Angguningtyas- santri PPFF)***

Share This Article
Verified by MonsterInsights