BMKG Kembali Ingatkan Soal Megathrust: “Tinggal Tunggu Waktu”, Dua Zona Dianggap Paling Berisiko!

BahteraBerita.com – Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi gempa besar akibat aktivitas megathrust. Melalui unggahan di akun resmi @InfoBMKG, lembaga ini menyebut bahwa beberapa zona megathrust di Indonesia kini “tinggal menunggu waktu” untuk melepaskan energi yang sudah lama tertahan.

BMKG menjelaskan bahwa megathrust adalah zona pertemuan dua lempeng tektonik besar, di mana salah satu lempeng menyusup ke bawah lempeng lainnya. Proses ini menimbulkan penumpukan energi yang, jika dilepaskan, dapat memicu gempa besar bahkan tsunami.

13 Zona Megathrust di Indonesia: Dari Aceh hingga Papua

Dalam peta yang dibagikan BMKG, terdapat 13 zona megathrust aktif di sepanjang kepulauan Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Beberapa di antaranya memiliki potensi magnitudo sangat besar:

Aceh-Andaman: M9,2

Nias–Simeulue: M8,7

Mentawai–Siberut: M8,9

Enggano: M8,4

Selat Sunda: M8,7

Papua: M8,7

Garis subduksi yang membentang dari barat Sumatra hingga selatan Jawa menandakan hampir seluruh pesisir selatan Indonesia termasuk dalam wilayah rawan gempa besar.

Dua Zona Paling Diwaspadai: Selat Sunda dan Mentawai-Siberut

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyebut dua segmen megathrust di Indonesia kini menjadi perhatian utama: Selat Sunda dan Mentawai–Siberut.

“Murni gempa berpusat di zona Megathrust Mentawai–Siberut,” kata Daryono, dikutip Sabtu (4/10/2025).

Ia menjelaskan bahwa kedua wilayah ini sudah sangat lama tidak melepaskan energi tektonik, sehingga termasuk dalam kategori seismic gap—daerah yang berpotensi besar mengalami gempa kuat karena tekanan yang terus menumpuk.

BRIN: Jika Melepas Energi, Tsunami Bisa Capai 8 Meter di Banten

Peringatan serupa juga disampaikan oleh Nuraini Rahma Hanifa, peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN. Ia menyebut pelepasan energi di selatan Jawa Barat hingga Selat Sunda dapat memicu gempa hingga magnitudo 8,7.

“Semua pesisir Banten akan terdampak, hanya saja tinggi tsunaminya berbeda-beda,” ujar Rahma.

Menurut pemodelan BRIN, gelombang tsunami di wilayah Banten bisa mencapai 4–8 meter, sementara di pesisir Lampung bisa lebih besar. Bahkan, jika gempa terjadi di sekitar Pangandaran, gelombang dapat menjalar hingga pesisir Jakarta dengan ketinggian 1–1,8 meter dan tiba sekitar 2,5 jam setelah gempa utama.

Baca Juga: 7 Kedai Es Krim Viral di Purwokerto yang Bikin Nagih Dari Mixue hingga Brand Lokal yang Bersaing Ketat!

BMKG: “Isu Lama” yang Tak Boleh Dianggap Remeh

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menegaskan, isu megathrust bukan hal baru, tetapi harus terus diingatkan agar masyarakat tidak lengah.

“Sebetulnya isu megathrust itu bukan isu baru. Tapi kenapa BMKG dan para pakar mengingatkan lagi? Tujuannya agar kita segera mitigasi, bukan hanya membicarakan,” tegas Dwikorita (6/9/2025).

Ia menambahkan, mitigasi dilakukan lewat edukasi publik, simulasi evakuasi, dan peningkatan sistem peringatan dini. Saat ini BMKG telah mengoperasikan INA-EEWS (Indonesia Earthquake Early Warning System) yang terdiri dari 222 sensor di seluruh Indonesia. Sistem ini mampu memberi peringatan sekitar 20 detik sebelum guncangan besar terjadi.

Yogyakarta dan Selatan Jawa Termasuk Zona Aktif

BMKG juga menyoroti aktivitas seismik tinggi di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan selatan Jawa. Dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) di Kulon Progo, Dwikorita mengungkap bahwa selama sepuluh tahun terakhir, wilayah ini telah mengalami 114 kejadian gempa bumi berkekuatan di atas magnitudo 5, termasuk dua kali gempa merusak.

Mengacu pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (PUSGEN 2017), potensi gempa megathrust di selatan Jawa bisa mencapai magnitudo 8,8 dan berpotensi menimbulkan tsunami besar.

“Keberadaan Yogyakarta International Airport (YIA) dirancang agar tahan terhadap ancaman megathrust dan tsunami. Ini simbol kesiapsiagaan bencana,” ujar Dwikorita.

Edukasi dan Kesiapsiagaan Jadi Kunci

BMKG terus mendorong peningkatan kesiapsiagaan melalui program seperti Masyarakat Siaga Tsunami dan BMKG Goes To School. Hingga 2025, program edukasi kebencanaan telah menjangkau lebih dari 166 sekolah dan 20 ribu peserta di berbagai daerah.

Selain itu, enam desa di Yogyakarta telah diakui UNESCO sebagai Tsunami Ready Community—bukti bahwa kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat Indonesia terus meningkat.

Baca Juga: Presiden Prabowo di PBB: Visi Baru untuk Ekonomi Indonesia yang Mandiri dan Berdaulat

“Bencana memang tidak bisa kita cegah, tetapi dampaknya bisa kita kurangi. Dengan kesiapsiagaan, kita menyelamatkan nyawa dan menjaga keberlanjutan pembangunan,” tutup Dwikorita.

Siaga, Bukan Panik

Peringatan BMKG bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan masyarakat di wilayah rawan gempa. Energi besar memang tersimpan di bawah tanah Indonesia, tetapi dengan edukasi, mitigasi, dan sistem peringatan dini yang kuat, risiko bencana bisa ditekan seminimal mungkin.

Pesan BMKG tetap sama:

“Bersiap hari ini, demi keselamatan esok hari.”

Verified by MonsterInsights