BahteraBerita.com – Kisah pilu datang dari warga Kota Lintang Bawah, Kecamatan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang. Sejumlah korban banjir mengaku harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup akibat minimnya bantuan selama empat hari pertama bencana melanda wilayah mereka.
Salah seorang warga, Muhammad Fahmi, menceritakan bagaimana dirinya dan keluarga terpaksa mencari makanan dengan cara ekstrem. Tingginya banjir membuat warga tidak bisa bergerak bebas, sehingga mereka harus berenang dari atap ke atap untuk mengamankan diri dari arus air yang mengganas.
Fahmi menuturkan bahwa pada hari keempat banjir, kondisi semakin kritis sehingga putranya nekat berenang menembus bahaya demi mencari makanan.
“Di awal harus turun tangan sendiri dalam keadaan bahaya, termasuk ini anak kita, lompat ini kedalaman 3 meter lebih untuk cari makanan. Udah empat hari nggak ada, dia cari ke kota dari seng ke seng,” ujar Fahmi saat ditemui di dekat rumahnya yang rusak parah.
Berenang 10 Jam untuk Menempuh Jarak 1 Kilometer
Menurut Fahmi, anaknya menempuh perjalanan sekitar 10 jam, mulai pukul 08.00 hingga tiba di lokasi bantuan pada pukul 18.00 waktu setempat. Padahal jarak yang ditempuh hanya sekitar 1 kilometer, namun banjir yang menggenangi area hingga setinggi lebih dari tiga meter membuat perjalanan sangat melelahkan dan berbahaya.
“Ke kota dari sini sekitar 1 kilometer, tapi perjalanannya mulai jam 8 dan jam 6 sore nyampe sana,” jelas Fahmi.
Kondisi tersebut memperlihatkan betapa tingginya tingkat kesulitan yang dihadapi warga di tengah banjir besar yang merendam Aceh Tamiang sejak akhir November.
Tak Ada Bantuan, Warga Mengandalkan Roti Hanyut
Namun sesampainya di lokasi yang diharapkan sebagai pos bantuan, tidak ada makanan yang tersedia. Situasi semakin memilukan ketika Fahmi mengungkapkan bahwa putranya hanya bisa mengambil roti-roti yang hanyut dari toko yang terendam banjir.
“Nggak ada juga makanan tersedia. Makanan yang hanyut-hanyut itulah dari toko-toko itu yang diambil,” ungkapnya.
Kisah ini menjadi gambaran kerasnya perjuangan warga Aceh Tamiang dalam menghadapi bencana banjir yang merendam wilayah mereka selama berhari-hari tanpa bantuan memadai.
Tragedi yang menimpa warga Kota Lintang Bawah menunjukkan urgensi peningkatan respons cepat terhadap bencana dan distribusi logistik yang lebih efektif. Cerita Fahmi dan anaknya adalah potret nyata bagaimana keterlambatan bantuan dapat membawa masyarakat pada situasi ekstrem yang membahayakan jiwa.
Artikel ini sudah tayang di: https://news.detik.com/berita/d-8252309/korban-banjir-aceh-tamiang-berenang-cari-bantuan-hingga-makan-roti-hanyut

