Poros Baru Dakwah Digital: PPFF Semarang Jadi Tuan Rumah Temu Media Pesantren se-Jateng

Ustadz Tasir
5 Min Read
PPFF Semarang sukses menjadi tuan rumah Temu Media Pesantren se-Jawa Tengah untuk memperkuat strategi dakwah digital dan sinergi media pesantren di era digital.

SEMARANG – Era digital yang kian dinamis menuntut institusi pesantren tidak lagi sekadar memosisikan diri sebagai benteng penjaga moral, melainkan juga produsen utama narasi kebaikan di ruang siber. Merespons tantangan krusial tersebut, Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF)—Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang, sukses menjadi tuan rumah agenda akbar “Temu Media Pesantren se-Jawa Tengah” pada Sabtu (16/5).

 

Mengusung tema “Menata Langkah, Menguatkan Arah Dakwah di Era Digital”, forum ini menjadi momentum strategis bagi para penggiat media struktural pesantren dari berbagai daerah di Jawa Tengah untuk menyamakan persepsi, memperkuat networking, serta merumuskan strategi publikasi syiar Islam secara masif dan terstruktur.

 

Pendiri sekaligus Pengasuh PPFF Semarang, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA., memberikan pemikiran taktis mengenai sinergi media dan lembaga pendidikan Islam di Jawa Tengah

 

Memasuki sesi pengarahan utama, Pendiri sekaligus Pengasuh PPFF Semarang, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA., memberikan pemikiran taktis mengenai sinergi media dan lembaga pendidikan Islam di Jawa Tengah. Dalam keynote speech, Kyai Fadlolan memberikan refleksi tajam sekaligus kritik sosial terhadap realitas media sosial masa kini, di mana tindakan amoral dan kemaksiatan kerap dipamerkan secara terbuka dengan rasa bangga. Beliau membakar semangat para peserta sebagai santri yang beradab, berakhlak, dan berilmu, mereka mampu mengikis banjir konten negatif tersebut melalui konsistensi publikasi kebaikan sebagai representasi syiar Islam.

 

Dinamika acara semakin tajam saat memasuki sesi diskusi interaktif. Sesi Talk Show pertama menghadirkan tema sentral “Content is Power: Membangun Pengaruh & Pemberdayaan Perempuan di Era Media Digital” dengan narasumber Ning Nilna Silma Jauharotina dan Arina Millataka. Pemaparan kedua narasumber ini selaras dengan Kyai Fadlolan, bahwa santri masa kini perlu bertindak sebagai kreator yang masif menebar kebaikan secara keilmuan (bil ‘ilmi) sekaligus tindakan nyata (bil ‘amali), termasuk melalui ruang digital.

 

Talk Show pertama menghadirkan tema sentral “Content is Power: Membangun Pengaruh & Pemberdayaan Perempuan di Era Media Digital” oleh Ning Nilna Silma Jauharotina dan Arina Millataka

 

Arina Millataka mengekspresikan kekagumannya terhadap antusiasme dan energi positif para peserta yang hadir dari berbagai penjuru Jawa Tengah. Ia juga mengakui keunggulan akselerasi tata kelola yang dijalankan oleh PPFF Semarang. “Jujur, saya sangat penasaran dengan formula manajemen yang diterapkan oleh Kyai Fadlolan. Dalam kurun waktu yang relatif muda, yakni baru 7 tahun berdiri, pesantren ini berkembang pesat di segala lini,” ungkapnya.

 

Apresiasi senada dituturkan oleh Ning Nilna Silma. Di samping takjub melihat kemegahan infrastruktur fisik dan kelengkapan fasilitas penunjang di PPFF Semarang, ia memberikan sorotan khusus. “Keberhasilan sistem didikan Kyai Fadlolan kepada para santri yang mempraktikkan nilai takrim (memuliakan) dan menghormati tamu sungguh luar biasa. Ini adalah implementasi nyata dari karakter salaf,” puji Ning Nilna.

 

Talk Show kedua, K. Ahmad Mundzir, mengulas tema komprehensif “Penguatan Ekosistem Media Pondok dan Literasi Digital Santri di Jawa Tengah”.

 

Pada sesi Talk Show kedua, K. Ahmad Mundzir, mengulas tema komprehensif “Penguatan Ekosistem Media Pondok dan Literasi Digital Santri di Jawa Tengah”. Gus Mundzir menekankan pentingnya aspek kontinuitas bagi media pesantren. “Media pesantren tidak boleh patah semangat dalam menjaga konsistensi. Setelah aspek kualitas dan kuantitas keberlanjutan produksi terpenuhi, langkah berikutnya adalah kecerdasan dalam mengemas mutu konten. Konten yang berkualitas adalah instrumen utama dalam mendongkrak dan mengeskalasi citra pesantren,” jelas Gus Mundzir.

 

Usai jeda ISHOMA, forum berlanjut ke Sidang Komisi dan Pleno. Dipandu oleh Tim Sidang, agenda ini dibagi ke dalam beberapa fase strategis, meliputi Sidang Pembahasan AD/ART, Sidang Pembahasan Struktur Organisasi MPJT Pusat & Karesidenan, serta Sidang Program Kerja & Rekomendasi.

 

Sidang Pembahasan AD/ART, Sidang Pembahasan Struktur Organisasi MPJT Pusat & Karesidenan, serta Sidang Program Kerja & Rekomendasi.

 

Forum Temu Media Pesantren se-Jateng ini diharapkan menjadi pemantik bagi para insan media Pesantren untuk langsung mengimplementasikan ilmu yang didapat di pesantren masing-masing. Output edukatif ini juga ditargetkan menjadi katalisator kuat bagi santri untuk terus bertumbuh, berdaya, berkarya, dan memegang kendali atas narasi dakwah positif di ruang digital.

(Laili Nailul Muna-Santri PPFF***)

Share This Article
Verified by MonsterInsights