
Semarang — Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Pesantren Bilingual Berbasis Katakter Salaf Semarang, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., M.A., menegaskan pentingnya penguatan media pesantren sebagai sarana syiar Islam di tengah derasnya arus konten negatif di media sosial, serta membangun networking antar media pesantren. Hal itu disampaikan dalam forum “Temu Media Pondok Pesantren se-Jawa Tengah” di PPFF, Sabtu (16/05/2026).
Dihadapan 275 delegasi dari 100 media pesantren, Kyai Fadlolan menyoroti maraknya publikasi konten negatif di ruang digital. Menurut beliau, berbagai hal buruk dengan bangganya dipamerkan dan disebarluaskan, sementara santri yang memiliki akhlak adab dan kapasitas ilmu yang mumpuni justru jarang dipublikasikan.

“Hal yang buruk saja dengan bangganya dipamerkan dan dipublikasikan. Lalu kenapa santri yang punya ilmu, adab, dan akhlak yang baik tetapi jarang ditampilkan? Padahal Islam punya syiar, syiar itu bagian dari ibadah, dan ibadah harus disyiarkan,” dawuh Kyai Fadlolan.
Kyai Fadlolan menjelaskan, dalam hal publikasi, niat juga memiliki peran penting, karena perbedaan antara syiar dan ria terletak pada niat.
“Kalau niatnya untuk pamer maka menjadi ria dan hukumnya haram. Tetapi kalau niatnya agar agama Islam ini dikenal, dipahami, dan menjadi edukasi bagi umat, maka itu menjadi syiar, dan hukumnya sunah bahkan bisa menjadi wajib”, tegasnya.
Pesantren perlu membangun media publikasi yang kuat agar nilai-nilai pendidikan Islam, karakter santri, dan budaya pesantren yang baik dapat dikenal luas oleh masyarakat. Inilah posisi vital media pesantren untuk mengimbangi dominasi konten negatif di era digital.
Dalam kesempatan tersebut, Kyai Fadlolan juga menyebut ada dua hal penting yang menentukan citra sebuah institusi di mata masyarakat, yakni manajemen yang baik dan media publikasi yang kuat. Menurut beliau, sistem pendidikan yang baik tidak akan dikenal masyarakat tanpa adanya publikasi yang maksimal.
Selain publikasi, Kyai Fadlolan turut menekankan pentingnya membangun networking atau jejaring antar media pesantren. Menurut beliau, kekuatan di era saat ini tidak hanya ditentukan oleh modal dan alat, tetapi juga koneksi dan kolaborasi.
”Orang sukses pasti dia yang bisa memanfaatkan networking. Hari ini kekuatan bukan hanya soal modal besar, tetapi siapa yang memiliki jaringan kuat,” jelasnya.

Karena itu, forum Temu Media Pondok Pesantren se-Jawa Tengah dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat koneksi dan kerja sama antar media pesantren di berbagai daerah serta menjadi wadah saling menguatkan dalam perjuangan dakwah Islam di era digital.
(Rihanah-santri PPFF***)


