BahteraBerita.com – Rangkaian ziarah santri PPFF di makam Sunan Ampel pencetus Moh Limo menjadi destinasi ketiga setelah Jombang dan Bangkalan. Rombongan 25 bus dari Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Semarang yang dipimpin oleh DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA, bersama Ibu Nyai Fenty Hidayah, S.Pd., tiba di kawasan Masjid Ampel, Surabaya, pada Sabtu (20/9/2025).
Makam Sunan Ampel terletak di sebelah barat Masjid Ampel. Sosok wali yang bernama asli Raden Rahmat ini lahir pada tahun 1401 M dan wafat pada 1481 M. Beliau adalah putra dari Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) yang memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa, khususnya wilayah Surabaya dan sekitarnya.
Sunan Ampel dan Strategi Dakwah “Moh Limo”

Sunan Ampel dikenal sebagai ulama yang menyebarkan Islam dengan pendekatan budaya lokal. Beliau mencetuskan strategi dakwah “Moh Limo” yang mengajarkan umat Islam untuk menjauhi lima perbuatan tercela:
Moh ngombe – tidak meminum minuman keras.
Moh madat – tidak menggunakan narkoba atau zat adiktif.
Moh maling – tidak mencuri.
Moh main – tidak berjudi.
Moh madon – tidak berzina.
Konsep sederhana ini menjadi ajaran moral dan spiritual yang sangat membumi, sehingga mudah diterima oleh masyarakat Jawa kala itu. Hingga kini, prinsip Moh Limo tetap relevan sebagai pegangan hidup bagi umat Islam dalam menjaga akhlak mulia.
Karomah Sunan Ampel: Kisah Mbah Sholeh

Selain strategi dakwahnya, Sunan Ampel juga dikenal memiliki karomah. Salah satunya berkaitan dengan sosok santri taat bernama Mbah Sholeh. Ia sangat rajin membersihkan masjid hingga Sunan Ampel merasa kehilangan ketika sang santri wafat.
Suatu hari Sunan Ampel berucap, “Andai Mbah Sholeh masih hidup, masjid ini pasti selalu bersih.” Ajaibnya, keesokan harinya masjid kembali bersih seperti dirawat Mbah Sholeh. Peristiwa ini berulang hingga sembilan kali, dan masyarakat meyakini karomah tersebut adalah bentuk kasih sayang Allah melalui wali-Nya.
Di kompleks makam Sunan Ampel, ribuan santri PPFF melantunkan doa, tahlil, dan dzikir bersama. Suasana penuh kekhusyukan tercipta, menumbuhkan rasa cinta kepada para wali Allah sekaligus memperkuat ruhani santri.
KH. Fadlolan berharap, melalui ziarah ini para santri dapat meneladani akhlak mulia Sunan Ampel, menanamkan nilai Moh Limo dalam kehidupan sehari-hari, serta istiqamah menuntut ilmu dengan semangat.

