BahteraBerita.com – Setelah beranjak dari Jombang, ribuan santri Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Semarang melanjutkan ziarah santri PPFF di makam Syaikhona Kholil Bangkalan Madura. Rombongan dipimpin langsung oleh Pendiri dan Pengasuh PPFF, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA, bersama Ibu Nyai Fenty Hidayah, S.Pd.
Kota Bangkalan dikenal sebagai “Kota Dzikir dan Sholawat”, tempat dimakamkannya ulama karismatik yang menjadi guru besar para kiai Nusantara, yakni Syaikhona Kholil Bangkalan. Makam beliau di Desa Martajasah, Kabupaten Bangkalan, tidak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai penjuru negeri.
Ribuan Santri Gelar Tahlil dan Doa Bersama

Setibanya di kompleks makam, seluruh santri PPFF melaksanakan shalat jamak takhir Maghrib dan Isya. Setelah itu, dilanjutkan dengan tahlil serta doa bersama yang dipimpin oleh KH. Fadlolan Musyaffa’. Suasana khusyuk menyelimuti ribuan santri yang berharap berkah dan syafaat dari ulama besar Nusantara ini.
Syaikhona Kholil, Guru Para Ulama Besar Nusantara
Syaikhona Kholil Bangkalan dikenal sebagai gurunya para ulama. Di antara murid-murid beliau adalah Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Dahlan Salim Zarkasyi, KH. As’ad Syamsul Arifin, serta banyak kiai besar lainnya yang kelak berperan penting dalam perkembangan pendidikan pesantren di Indonesia.

Baca Juga: Bukit Pawuluhan Pekalongan: Surga Tersembunyi untuk Healing dan Camping di Dataran Tinggi
Bahkan, melalui isyarat karomah beliau, KH. Hasyim Asy’ari diperintahkan untuk mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Tongkat wasiat yang dikirimkan melalui KHR. As’ad Syamsul Arifin Situbondo menjadi tanda restu berdirinya NU, yang kini menjadi organisasi Islam terbesar di dunia dengan lebih dari 65% umat Muslim Indonesia sebagai warganya.
Ulama Alim dengan Karomah dan Keilmuan Luas
Syaikhona Kholil Bangkalan adalah sosok alim yang menguasai banyak fan ilmu agama, mulai dari nahwu sharaf, fiqh, tafsir, hadis, hingga adab. Beliau juga memiliki banyak karomah, salah satunya ketika beliau memperoleh ilmu melalui mimpi.
Diceritakan, suatu ketika beliau bermimpi didatangi KH. Abu Darrin, pengasuh Ponpes Winongan, yang terkenal alim dalam ilmu nahwu dan shorof. Sejak bangun dari mimpi itu, Syaikhona Kholil menjadi hafal kitab-kitab besar seperti Alfiyah, Imrithi, dan Ibnu Aqil. Hal ini menunjukkan bahwa beliau adalah sosok alim yang haus ilmu serta dikaruniai keistimewaan oleh Allah SWT.

Ziarah ke makam Syaikhona Kholil Bangkalan menjadi momentum penting bagi para santri PPFF. Selain berdoa dan bertabarruk, mereka diharapkan semakin bersemangat dalam menuntut ilmu serta meneladani perjuangan para ulama.
KH. Fadlolan menegaskan, ziarah adalah bentuk ikhtiar spiritual untuk menumbuhkan rasa cinta kepada para Auliya’ sekaligus memperkuat ikatan ruhani para santri. Dengan penuh harap, doa pun dipanjatkan agar seluruh rombongan senantiasa mendapat berkah dan ridha Allah SWT.

