
Dalam rangka menumbuhkan kesadaran pentingnya kesehatan mental serta membangun lingkungan belajar yang aman dan nyaman, Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang, bekerjasama dengan Puskesmas Mijen Kota Semarang menyelenggarakan kegiatan penyuluhan bertema “Bullying dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis” bagi para siswa madrasah Al-Musyaffa’ PPFF Semarang.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu pagi (4/2), bertempat di Masjid Raudhatul Jannah PPFF Semarang, diikuti oleh santri dari jenjangn MI, MTs dan MA.
Dalam sambutan Pendiri dan Pengasuh PPFF, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA. menyampaikan bahwa dalam kehidupan sosial, baik di lingkungan pondok pesantren maupun masyarakat, setiap santri harus mampu menjaga lisan dan perbuatan. Beliau menekankan pentingnya membiasakan diri untuk berkata baik serta menghindari tindakan yang dapat melukai atau merugikan orang lain.

Tidak hanya itu, beliau juga mengingatkan para siswa agar tidak merusak apa pun yang ada di sekitar, baik fasilitas bersama maupun alam. Menurut beliau, semua yang tersedia merupakan amanah yang harus dijaga, dirawat, dan dimanfaatkan dengan penuh tanggung jawab.
Dalam penyuluhan tersebut, para siswa diajak memahami berbagai bentuk bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah, baik secara verbal, fisik, jiwa, maupun sosial. Siswa juga diberikan pemahaman mengenai dampak serius perundungan terhadap kondisi psikologis korban, yang dapat memengaruhi rasa percaya diri, semangat belajar, bahkan kesehatan mental dalam jangka panjang.
Materi disampaikan secara komunikatif oleh dua narasuber dr. M. Alvin Fadhlurrahman dan dr. Miftah, dari Puskesmas Mijen Kota Semarang. Dengan penyampaian yang ringan namun berbobot, pemateri menegaskan bahwa bullying bukanlah hal sepele, melainkan perilaku yang dapat meninggalkan luka batin dan berpengaruh terhadap masa depan seseorang.
Selain membahas bullying, para siswa juga diberikan wawasan tentang langkah awal pertolongan pertama pada luka psikologis, seperti mendengarkan korban dengan empati, tidak menyalahkan, serta memberikan dukungan moral agar korban merasa aman dan tidak merasa sendirian.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa mampu menumbuhkan sikap saling menghormati, menjaga adab dalam pergaulan, serta memperkuat kepedulian sosial di lingkungan madrasah. Penyuluhan ini menjadi salah satu ikhtiar bersama untuk menciptakan rasa aman dalam pendidikan, sehat, ramah, dan penuh kasih sayang yang sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi akhlak mulia.***
