BAHTERABERITA.COM – TUBAN – Ribuan santri Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Semarang dengan moda transportasi 25 bus besar dari Semarang melakukan ziarah makam aulia’ di Jawa Tengah – Jawa Timur – Madura.
Pertama kali adalah menziarahi makam Syekh Hasyim Asyari, Jombang sekaligus makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) karena satu kompleks di Jombang.
Yang kedua adalah makam Syekh Kholil Bangkaan, Madura. Yang ketiga adalah Sunan Ampel, syekh R Raahmatullah di Surabaya.
Kemudian, yang keempat adalah makam Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri di puncak bukit, di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Kemudian di makam Sunan Bonang, Maulana Makhdum Ibrahim dan yang keenam adalah ziarah makam Sunan Kalijogo, Kadilangu, Demak.
Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Semarang, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA bersama Ibu Nyai Fenty Hidayah, S.Pd., membawa ribuan santri ziarah auliya’ ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Madura.
Ziarah tahunan yang biasanya digelar menjelang Hari Santri Nasional ini berlangsung selama dua hari, Sabtu–Ahad, 20–21 September 2025.
Perjalanan ziarah diawali dari Jombang, makam pendiri NU, Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, putranya KH. Wahid Hasyim, serta cucunya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Dilanjutkan ke Tuban
Minggu, 21 September 2025, setelah berziarah dari Makam Syaikhona Maulana Malik Ibrahim, Sunan Gresik, rombongan ziarah auliya’ yang dipimpin oleh Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Pesantren Bilingual Berbasis Karaktet Salaf Semarang, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’ Lc.,MA. dan Ibu Nyai Hj. Fenty Hidayah, S.Pd.I. melanjutkan perjalanan spiritualnya menuju kota yang dijuluki “Bumi Wali” yaitu Tuban.
Kali ini, rombongan mengunjungi Makam Sunan Bonang Syekh Maulana Makhdum Ibrahim merupakan cucu dari Sunan Gresik. Letak Makam Sunan Bonang tak jauh dari kompleks Masjid Agung Tuban.

Sunan Bonang salah satu dari walisongo yang dikenal seorang ulama sufi, ahli dalam berbagai bidang ilmu agama dan sastra.
Juga dikenal ahli falak, musik, dan seni pertunjukan.
Nama asli Sunan Bonang yaitu Raden Maulana Makdum Ibrahim.
Nama “Bonang” dikenal karena dua hal, yang pertama Beliau sering menggunakan gamelan bernama bonang dalam menyebarkan agama Islam.

Kesenian rakyat digunakan untuk menarik simpati masyarakat pada waktu itu masih memeluk agama Hindu.
Masyarakat mendengarnya untuk berbondong-bondong ke masjid.
Setelah itu Beliau menembangkan lagu-lagu Jawa dengan iringan gamelan bonang tersebut.
Sunan Bonang salah satu putra Sunan Ampel dari pernikahan Nyai Ageng Manila putri Arya Teja Bupati Tuban.
Sunan Bonang dalam dakwah diketahui menjalankan pendekatan kultural melalui seni budaya.

Selain itu, Beliau juga berdakwah menggunakan wayang. Sunan Bonang juga piawai dalam menggubah tembang-tembang macapat.
Berbagai kesaktian dan kedigdayaan yang ditunjukkan Sunan Bonang ternyata berhubungan dengan pengetahuan Sunan Bonang yang luas dan mendalam dalam ilmu tasawuf. Naskah Primbon Bonang yang diyakini pengetahuan ruhani Sunan Bonang yaitu kesaktian dan kedigdayaan yang ditunjukkan Sunan Bonang sebagai karomah dari kewaliannya.
Selain Primbon Bonang, Sunan Bonang diketahui menyusun kitab tentang pengetahuan tasawuf yang mendalam dan lebih rahasia yaitu Suluk Wujil. Ungkapan Suluk Wujil sebagai rahasia, yang menyangkut bahasan hakikat KeTuhanan di yang diungkapkan dengan Langgam Dhandanggula.
Semoga para santri bisa menauladani Sunan Bonang dalam segi keilmuan dan dakwahnya. Bukan hanya ahli dalam keilmuan tapi juga ahli dalam berdakwah.
Dalam perjalanan pulang ke Semarang, ribuan santri PPFF peziarah makam aulia’ berziarah ke makam Sunan Kalijogo, di Kadilangu, Demak.
Allahumma Amin.***


