BahteraBerita.com – Tempe bongkrek merupakan salah satu kuliner tradisional yang berasal dari Banyumas. Berbeda dengan tempe kedelai pada umumnya, tempe ini dibuat dari campuran ampas parutan kelapa dan kacang kedelai. Hasil fermentasi tersebut menghasilkan tempe dengan tekstur khas serta aroma yang lebih kuat.
Sekilas, bentuk tempe bongkrek memang mirip dengan tempe biasa. Namun jika diperhatikan lebih detail, warna putih kehitaman dari hasil fermentasinya terlihat lebih dominan.
Ciri khas tempe bongkrek sering dianggap sebagai perpaduan antara tempe dan oncom. Teksturnya padat dengan cita rasa gurih yang khas, sehingga cocok diolah menjadi berbagai menu sederhana namun menggugah selera, seperti tempe goreng, tumisan, hingga sambal pedas yang populer di kalangan masyarakat Banyumas.
Baca Juga: Curug Cipendok Banyumas: Pesona Air Terjun di Lereng Slamet dengan Tiket Murah dan Akses Mudah
Keunikan dan Risiko Tempe Bongkrek
Di balik kelezatannya, tempe bongkrek memiliki keunikan tersendiri. Jika proses fermentasi tidak dilakukan dengan benar, tempe ini bisa menghasilkan racun yang berbahaya. Inilah yang membuat tempe bongkrek dikenal sekaligus diwaspadai dalam sejarah kuliner Jawa Tengah.
Oleh karena itu, proses pembuatannya harus dilakukan dengan teknik yang tepat dan pengawasan ketat agar tetap aman dikonsumsi.
Warisan Kuliner yang Melegenda
Baca Juga: Penak Mawon Baturaden: Sensasi Kuliner Tradisional ala Jawa-Bali di Tepi Sungai Jernih
Meski memiliki reputasi “berbahaya” bila salah dibuat, tempe bongkrek tetap menjadi bagian penting dari identitas kuliner Banyumas. Keberadaannya tidak hanya mencerminkan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan hasil bumi, tetapi juga menjadi simbol tradisi yang diwariskan lintas generasi.

