BAHTERABERITA.COM – MESIR – Ikatan Santri Alumni Fadhlul Fadhlan Mesir (IKSAFLANA) menggelar kegiatan Pembinaan MABA dan Orientasi Kegiatan Liburan Setelah Ujian Semester Pertama Universitas Al-Azhar yang bertempat di Sekretariat IKSAFLANA, Mesir, pada Senin (26/01/26).
Kegiatan ini diikuti oleh 20 alumni santri Madrasah Aliyah Al-Musyaffa’ angkatan ke-3 Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF), Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang. Para alumni angkatan ke-3 yang telah berangkat ke Mesir pada 17 Desember 2025 menyusul 16 kakak alumni dari dua angkatan sebelumnya.
Acara tersebut dipimpin oleh Gus Ahmad Syauqi Istiqlaly Fadlolan (Putra KH. Fadlolan Musyaffa’), serta dihadiri oleh Gus Azki, dan jajaran pengurus IKSAFLANA. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pembinaan awal dan bimbingan agar siap secara keilmuan, mental, dan spiritual dalam menempuh studi di Mesir, baik yang utama studi di bangku kuliah maupun tambahan talaqqi ngaji menghadap syekh dari masyayikh Al-Azhar diluar kampus.
Dalam sambutannya, Gus Ahmad Syauqi menekankan pentingnya menata kembali niat dalam menuntut ilmu. Ia mengingatkan bahwa setelah lepas dari almamater, para santri dituntut untuk lebih mandiri dan bertanggung jawab.
Selain itu, beliau menegaskan pentingnya mengamalkan tiga manajemen yang diajarkan oleh Kyai Fadlolan, yakni manajemen waktu, manajemen prioritas, dan manajemen taqarrub ila Allah, sebagai bekal utama dalam menuntut ilmu dan menjalani kehidupan.
Mayoritas mahasiswa mesir memiliki tradis talaqqi (ngaji dihadapan syekh). Seorang syekh membacakan kitab kuning dan diterangkan, sekira ada yang tidak bisa difahami, maka murid yang mengaji bisa bertanya dan dijawab dengan keterangan yang lebih luas.
Dari sinilah para murid talaqqi bisa belajar kitab secara sempurna dari awal sampai akhir kitab dan mendapat sanad keilmuan langsung dari seorang syekh yang alim dan berkesinambungan sanadnya sampai Rasulullah SAW.
Berbeda dengan datang ke pengajian majlis taklim yang hanya mendengarkan ceramah permateri cuplikan potongan dari bab dan judul tertentu dari sebagian isi kitab.
Sementara itu, Gus Azki yang sejak tahun lalu dipercaya sebagai penasihat IKSAFLANA, menyampaikan arahan dan motivasi mengenai pentingnya menjadi mahasantri yang ideal, baik dari sisi keilmuan, akhlak, maupun mentalitas. Ia juga memberikan panduan singkat terkait pola belajar, etika santri, serta rekomendasi kitab dan percetakan yang perlu diperhatikan oleh mahasiswa baru di Mesir.
Meningkatnya jumlah alumni MA Al-Musyaffa’ yang melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar Mesir menjadi bukti nyata keseriusan Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan, Dr. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA., bersama Ibu Nyai Hj. Fenty Hidayah, S.Pd., dalam membangun lembaga pendidikan yang bermutu dan berorientasi global. Meski baru berusia tujuh tahun, PPFF telah menunjukkan komitmen kuat dalam mencetak generasi unggul yang siap berkiprah di tingkat internasional.

Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari tiga program unggulan MA Al-Musyaffa’, yaitu Program Tahfidh Al-Qur’an 30 juz dalam 6 bulan, program bilingual Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, serta pendalaman kitab kuning dari nahwu sharaf, fiqh, tafsir, hadis, dan ilmu-ilmu kaitannya. Ketiga program ini menjadi modal penting bagi santri untuk melanjutkan studi ke luar negeri, khususnya ke Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir.
Kegiatan Pembinaan dan Pengarahan Anggota Baru IKSAFLANA berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat, kemudian ditutup dengan doa bersama.
Semoga para santri alumni PPFF di Mesir senantiasa diberikan kemudahan dan keberkahan dalam menuntut ilmu, serta kekuatan untuk menjaga nama baik pesantren dan Tanah Air di kancah internasional. Allahumma Aamiin.***

