Tangis Haru Warnai Sambangan Perdana Khusus Santri Baru Madrasah Al-Musyaffa’ PPF

Ustadz Tasir
3 Min Read
Momen Sambangan Perdana “khusus” Santri Baru PPFF, Ahad (02/8/26)

SEMARANG – Suasana haru menyelimuti Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF), Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang, pada Ahad (2/8). Setelah menyelesaikan program Dirosah Khosshoh selama 40 hari, santri baru Madrasah Al-Musyaffa’ PPFF akhirnya diperkenankan sambangan wali santri. Momen yang dinantikan ini menjadi pertemuan pertama antara santri dan orang tua sejak awal kedatangan mereka di pesantren.

 

Selama 40 hari, para santri baru mengikuti program Dirosah Khosshoh sebagai tahap pembinaan awal sebelum memasuki kegiatan belajar mengajar secara penuh. Program ini berfokus pada pelatihan dasar penulisan makna pegon, BTQ, materi dasar nahwu sharaf melalui Kitab Jurumiyah bagi jenjang MTs dan Kitab Alfiyah Ibnu Malik dan I’lal bagi jenjang MA, sebagai upaya menyelaraskan kemampuan santri dengan target kurikulum Madrasah Al-Musyaffa’ PPFF. Di bawah bimbingan langsung Pendiri dan Pengasuh PPFF, Dr. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., M.A., dan para asatidz, para santri juga dibina dalam pembiasaan adab, kedisiplinan, kemandirian, serta budaya berbahasa Arab dan Inggris yang menjadi ciri khas pendidikan di PPFF.

 

Tangis haru mewarnai sambangan perdana santri baru Madrasah Al-Musyaffa’ PPFF usai mengikuti Dirosah Khosshoh selama 40 hari. Wali santri mengaku bangga melihat perubahan adab, akhlak, dan kemandirian putra-putri mereka.

Pertemuan perdana tersebut berlangsung penuh kehangatan. Tangis haru pecah ketika para santri memeluk kedua orang tua setelah lebih dari empat puluh hari berpisah. Kebahagiaan dan rasa syukur begitu terasa saat para santri berbagi cerita tentang pengalaman, proses pembelajaran, serta kehidupan yang mereka jalani selama mengikuti pembinaan di pesantren.

 

Semua walusantri merasa senang dan puas campur bahagia, karena putra putrinya betah krasan di PPFF, bahkan mereka terharu karena putra putrinya sudah berubah kalem, tawadlu’, sopan santun yang beda banget adab dan akhlaq mereka dibanding saat diantar ke PPFF. “Alhamdulillah putra putri kami berubah menjadi anak-anak yg menjunjung tinggi akhlaq dan adab sangat hormat pada orang tua dan menjadi alim.” Begitulah komentar para walisantri.

Sambangan perdana tidak hanya menjadi momen melepas rindu, tetapi juga mempererat sinergi antara pesantren dan wali santri dalam mendampingi pendidikan putra-putri mereka. Dengan bekal karakter, adab, dan dasar keilmuan yang telah diperoleh selama Dirosah Khosshoh, para santri diharapkan siap mengikuti proses pendidikan di Madrasah Al-Musyaffa’ PPFF serta tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, dan membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

Share This Article
Verified by MonsterInsights