
SEMARANG – Menggelegar shalawat dan doa membelah kesunyian malam di area Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Semarang, Kamis malam (6/8/2026). Ribuan pasang mata tertuju ke satu titik, dalam momen sakral yang memadukan rasa syukur atas delapan tahun berdirinya pesantren dengan kerinduan mendalam kepada sosok ulama kharismatik, Syaikhona KH. Maimoen Zubair, yang kini memasuki haul ketujuh.
Malam itu, PPFF bukan sekadar gedung yang megah dengan ribuan santri, melainkan simpul pertemuan antara tradisi pesantren salaf dan tantangan zaman. Kehadiran para ulama, habaib, serta ribuan jamaah yang memadati area pesantren menciptakan atmosfer yang hangat, bersahaja, namun penuh wibawa.

Dalam suasana yang penuh emosional, Pengasuh PPFF, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA., mengajak hadirin menoleh ke belakang. Baginya, delapan tahun PPFF bukanlah perjalanan tunggal. Ia adalah buah dari doa, bimbingan, dan kasih sayang para masyayikh sepuh yang telah menanamkan fondasi sejak peletakan batu pertama.

Di tengah deretan tokoh, Dr. KH. Ahmad Darodji, Ketua BAZNAS Provinsi Jateng, yang juga tokoh pelaku sejarah yang turut peletak batu pertama berdirinya PPFF, hadir memberikan sambutan membawa semangat baru meresmikan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) PPFF. Beliau menegaskan bahwa pesantren harus terus bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan umat yang tidak hanya kaya akan ilmu, tapi juga berdaya secara ekonomi.

Sementara itu, KH. Muhammad Idror Maimoen, yang hadir mewakili dzurriyah Syaikhona Maimoen Zubair, seolah menjadi pengingat bagi seluruh santri. Pesan beliau menjadi penguat agar nilai-nilai luhur dan sanad keilmuan yang diwariskan Syaikhona Maimoen tetap hidup, terjaga, dan tidak lekang oleh gerusan zaman.

Lantunan Maulid Nabi yang dipimpin oleh Al-Habib Firdaus Al-Munawwar dan grup Al-Muqorrobin seakan membuka pintu langit, membawa kesejukan ke tengah jamaah.

Puncak malam itu ditandai dengan tausiyah dari KH. Ahmad Wafi Maimoen. Dengan tutur yang tenang namun tajam, Gus Wafi menguraikan pentingnya mengawinkan kedalaman ilmu agama dengan akhlak yang membumi. Baginya, santri adalah garda terdepan dalam menjaga keberlangsungan nilai Islam yang moderat dan santun.

Menjelang akhir acara, sosok Habib Umar Muthohhar hadir memberikan nasihat penutup yang menggugah. Beliau menekankan pentingnya menjaga *adab* dan keikhlasan dalam berkhidmah di dunia pesantren. Disanalah, keberkahan sebuah ilmu terletak pada sejauh mana seorang santri mampu memuliakan guru dan orang tuanya, serta bagaimana mereka membawa manfaat bagi masyarakat luas.

Malam ditutup dengan munajat khusyuk dalam Mahallul Qiyam dan doa-doa dari para alim ulama, termasuk Syeikh Ammar Azmi Arrafaty al-Jailany dan Habib Farid Al-Munawwar.
Sholawat Simtudduror yang menggema, dan doa-doa dari para Masyayikh yang hadir, semoga menjadi penanda bahwa perjalanan delapan tahun ini baru sekadar awal bagi PPFF untuk terus melahirkan generasi yang mencerahkan bangsa dan menjaga nilai-nilai Islam dalam kehidupannya.
PPFF Jump Jump Excellent!!


