Bukan Pasif, Bandongan Adalah Ruang Olah Nalar Kritis

Ustadz Tasir
5 Min Read

Ratusan hingga ribuan santri duduk bersila di aula atau masjid, menunduk, menulis makna yang mereka dengar dari kyainya adalah pemandangan ngaji bandongan dalam pesantren. Dan bagi orang luar pemandangan tersebut adalah definisi mutlak dari transmisi pesan satu arah, hierarkis, dan kaku.
Padahal sebagai santri, aktifitas tersebut adalah aktifitas yang ditunggu-tunggu. Karena santri dan kyai terlibat tatap muka langsung dalam proses penyaluran ilmu. Tapi mungkin hal tersebut kurang menjelaskan bagi orang luar pesantren, dan calon walisantri yang masih dilema ketika mau memondokkan putra-putrinya. Maka, mari kita kuak realitasnya.

Saat pena santri mulai bergerak menulis makna pegon di sela-sela kata pada rentetan bait pada kitabnya, di situlah praktik fact-checking dan analisis teks sedang berlangsung. Ngaji bandongan bukan sekadar rutinitas kyai membaca kitab, kemudian santri menulis makna di kitabnya, atau sekedar transfer ilmu yang pasif, melainkan sebuah ruang olah kognitif yang memaksa otak menolak-menerima informasi secara instan.

Santri Latihan Kebal Manipulasi Media
​Bagi orang luar atau sejumlah wali santri, mungkin melihat anak mereka memenuhi kitab dengan makna gantung (pegon) terlihat seperti belajar bahasa arab saja, atau menulis yang didiktekan oleh kyai. Namun ternyata santri sedang membedah anatomi kalimat. Saat menuliskan simbol kedudukan sintaksis (mana subjek, predikat, keterangan), santri dipaksa dan terbiasa untuk presisi.
​Ketelitian pada tata bahasa yang digunakan pada proses ngaji bandongan ini adalah umpan dari nalar kritis. Sedangkan life after lulus (meminjam istilah Gen Z) atau kehidupan menjadi alumni pesantren, santri digempur oleh clickbait, narasi bias, hingga manipulasi berita di dunia digital. Otak santri yang sudah terbiasa membedah struktur teks kitab kuning secara otomatis memiliki sensor yang peka terhadap framing media. Santri akan sadar: bergeser satu kata saja arti sudah beda, apalagi salah dalam menyusun redaksi dalam sebuah narasi, maka makna sebuah pesan bisa berubah total.

Tradisi ngaji bandongan santri langsung kepada Kyainya

Sanad Keilmuan: Filter Anti-Hoaks Paling Otentik
Di era banjir informasi instan seperti sekarang, sebuah berita bisa viral di grup WhatsApp keluarga atau fyp TikTok dalam hitungan menit saja. Ironisnya, masyarakat modern sering kali menelan mentah-mentah konten tersebut tanpa repot-repot saring sebelum sharing, atau mencari tahu siapa pembuat pertamanya. Sangat instan, tapi juga sangat rawan manipulasi.
​Bagi santri, kebiasaan “asal share” ini sebenarnya sudah ditangkal sejak mereka duduk mengikuti ngaji bandongan bersama kyai. Kyai tidak sekadar membacakan isi kitab dan melempar informasi begitu saja. Beliau selalu meruntut sanad (rantai keilmuan) secara rinci dari mana ilmu itu berasal, ulama siapa yang mengarang kitab, kepada siapa kyainya dulu berguru dan mendapat rantai keilmuan sebelumnya, hingga santri bisa tahu bahwa muara sanad keilmuan sampai pada Rosulullah SAW. Melalui rutinitas ini, santri secara tidak sadar dididik untuk tidak gampang percaya pada informasi bodong yang tidak jelas sumber asalnya. Ini adalah fondasi berharga untuk santri ketika nanti menghadapi arus digital.

Khilafiyah: Penangkal Sumbu Pendek
Kita pasti sering melihat fenomena warganet yang mudah ribut di kolom komentar hanya karena beda pandangan. Sadar atau tidak, kita sering terjebak algoritma media yang terus-menerus menyodorkan konten sesuai selera kita saja. Akibatnya, ketika sesekali muncul konten yang berseberangan dengan pandangan kita, kita menjadi kaget, tidak terima, dan akhirnya bersikap reaktif.
Di sinilah letak magisnya ngaji bandongan. Kyai tidak jarang memaparkan khilafiyah atau ragam perbedaan pendapat di antara para ulama untuk satu permasalahan yang sama. Lewat paparan ini, santri diajarkan untuk lebih luwes dalam menelaah bahwa kebenaran sebuah tafsir itu tidak melulu tunggal. Ada ruang toleransi yang diajarkan terhadap perbedaan perspektif. Mentalitas seperti ini jelas mencegah santri menjadi individu yang sumbu pendek, baperan, atau mudah terprovokasi narasi hitam-putih di dunia internet.

Jadi, untuk anda para calon wali santri yang masih overthinking atau khawatir apakah memondokkan anak akan membuat mereka kaku dan tertinggal zaman, praktik ngaji bandongan di pesantren justru membuktikan sebaliknya. Di tengah dunia digital yang makin ramai dan serba cepat, metode tradisional pesantren ini justru menjadi arena latihan ketahanan kognitif. Santri dilatih untuk mengunyah informasi sampai lumat, dan menguji nalar kritis sebelum buru-buru mengambil kesimpulan. Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan menjadi salah satu pesantren yang masih merawat tradisi ngaji bandongan di tengah arus modernitas. Di pesantren yang terletak di Kota Semarang ini santri masih mengaji bandongan langsung dengan kyai pendiri dan pengasuh pesantrennya, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc.,MA. Sebuah nilai tambah dalam menyoroti kualitas pesantren zaman sekarang.

Share This Article
Verified by MonsterInsights