Destinasi Kelima Ziarah Auliya’ 2025: Santri PPFF Tawassul di Makam Sunan Bonang, Ulama Sufi dan Pencipta Tembang Gamelan

BahteraBerita.com – Ahad, 21 September 2025, ribuan santri Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Semarang melanjutkan perjalanan spiritual mereka dalam rangkaian ziarah Auliya’ 2025. Setelah berziarah di makam Sunan Gresik, rombongan yang dipimpin oleh DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA., beserta Ibu Nyai Hj. Fenty Hidayah, S.Pd.I., berangkat menuju Tuban, kota yang dikenal sebagai “Bumi Wali”.

Tujuan ziarah kali ini adalah makam Sunan Bonang atau Syekh Maulana Makhdum Ibrahim, salah satu tokoh besar Walisongo yang berperan penting dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa. Makam beliau terletak tidak jauh dari kompleks Masjid Agung Tuban, menjadikannya salah satu destinasi religi yang ramai dikunjungi peziarah setiap harinya.

Sunan Bonang: Ulama Sufi dan Maestro Seni Dakwah

Destinasi Kelima Ziarah Auliya’ 2025: Santri PPFF Tawassul di Makam Sunan Bonang, Ulama Sufi dan Pencipta Tembang Gamelan

Sunan Bonang, yang memiliki nama asli Raden Maulana Makhdum Ibrahim, adalah cucu Sunan Gresik sekaligus putra dari Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri Bupati Tuban Arya Teja.

Beliau dikenal sebagai ulama sufi yang memiliki ilmu mendalam dalam bidang agama, sastra, falak, hingga seni budaya. Metode dakwahnya sangat khas, yakni dengan memanfaatkan kesenian rakyat. Sunan Bonang sering menggunakan gamelan untuk menarik simpati masyarakat yang pada waktu itu masih memeluk agama Hindu.

Baca Juga: Destinasi Ketiga Ziarah Auliya’ 2025: Ribuan Santri PPFF Tabarrukan di Makam Sunan Ampel, Pencetus Strategi Moh Limo

Setelah masyarakat berkumpul karena alunan gamelan, beliau menyampaikan ajaran Islam melalui tembang Jawa yang penuh makna. Dari sinilah nama “Bonang” melekat, karena beliau menggunakan instrumen gamelan bonang dalam dakwahnya.

Maestro Tembang Macapat dan Penggubah Suluk Wujil

Destinasi Kelima Ziarah Auliya’ 2025: Santri PPFF Tawassul di Makam Sunan Bonang,

Selain dakwah melalui gamelan, Sunan Bonang juga dikenal sebagai penggubah tembang-tembang macapat yang hingga kini menjadi warisan budaya Jawa. Beliau bahkan memanfaatkan seni pertunjukan wayang sebagai media syiar Islam.

Dalam bidang tasawuf, Sunan Bonang menorehkan karya monumental seperti Primbon Bonang dan Suluk Wujil. Naskah-naskah tersebut berisi ajaran mendalam tentang ruhani, hakikat ketuhanan, dan jalan spiritual seorang hamba menuju Sang Pencipta. Suluk Wujil, misalnya, ditulis dengan langgam Dhandanggula, penuh dengan pesan kerahasiaan tasawuf yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang menekuni jalan ruhani.

Baca Juga: Destinasi Kedua Ziarah Auliya’ 2025: Ribuan Santri PPFF Tabarrukan di Makam Syaikhona Kholil Bangkalan

Meneladani Keilmuan dan Akhlak Sunan Bonang

Rangkaian doa, tawassul, dan tahlil yang dipimpin langsung oleh KH. Fadlolan Musyaffa’ berjalan dengan khidmat. Dalam tausiyahnya, beliau berpesan agar para santri tidak hanya meneladani sisi keilmuan Sunan Bonang, tetapi juga mencontoh metode dakwah beliau yang penuh kearifan budaya.

Santri PPFF Lanjutkan Ziarah ke Tuban, Bumi Wali

“Semoga para santri bisa menauladani Sunan Bonang dalam segi keilmuan, akhlak, dan strategi dakwahnya yang penuh hikmah. Beliau bukan hanya ulama sufi, tetapi juga pembaharu dalam cara menyebarkan Islam di Nusantara,” tutur KH. Fadlolan.

Dengan penuh harap, doa dipanjatkan agar perjalanan ziarah Auliya’ 2025 membawa keberkahan, menambah kecintaan kepada para wali, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Verified by MonsterInsights