
SEMARANG – Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF), Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang, menggelar Muhadloroh ‘Ammah bersama Prof. Dr. Syeikh Muhammad Muhanna, Penasihat Khusus Imam Besar Syeikh Al-Azhar Mesir, dan Prof. Dr. Atta Abdul Ati El Sonbaty, Dekan Fakultas Syariah wal Qonun Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, pada Sabtu (25/7/2026) di Masjid Raudhatul Jannah PPFF.
Dalam muhadlorohnya, Prof. Dr. Syeikh Muhammad Muhanna menjelaskan tentang tahapan kesiapan dalam menuntut ilmu. Menurut beliau, seorang penuntut ilmu harus melalui beberapa tahapan agar ilmu yang diperoleh benar-benar bermanfaat dan membawa keberkahan.
Tahap pertama adalah memiliki _roghbah_ atau minat yang tinggi untuk mencari ilmu. Beliau menjelaskan bahwa rasa ingin tahu merupakan faktor terpenting yang melahirkan pemahaman. Tahap berikutnya adalah membangun pemahaman yang benar. Seorang santri, menurut beliau, tidak boleh tergesa-gesa menyampaikan ilmu kepada orang lain sebelum benar-benar mempelajarinya mendalam dan megamalkannya.

Beliau menegaskan bahwa ilmu yang tidak diamalkan tidak akan memberikan manfaat, bahkan lambat laun akan sirna. Selain itu, seseorang juga harus memiliki argumentasi yang mampu meyakinkan dirinya sendiri terhadap ilmu yang telah dipelajarinya.
Dipenghujung muhadlorohnya, Syeikh Muhammad Muhanna menegaskan bahwa seluruh tahapan tersebut harus dibangun di atas adab, karena adab merupakan penjaga kokohnya ilmu.
“أساسُ العلمِ هو الأدب”
“_Pondasi ilmu adalah adab.”_
Beliau kemudian mencontohkan bagaimana Imam Syafi’i menunjukkan penghormatan yang tinggi kepada gurunya, Imam Malik, serta bagaimana murid-murid Imam Abu Hanifah menjaga adab kepada guru mereka. Menurut beliau, keberhasilan para ulama besar tidak hanya lahir dari keluasan ilmu, tetapi juga dari kemuliaan adab yang senantiasa mereka jaga.

Sementara itu, Prof. Dr. Atta Abdul Ati El Sonbaty menyampaikan pentingnya kesabaran dalam menuntut ilmu. Menurut beliau, perjalanan mencari ilmu adalah proses panjang yang membutuhkan ketekunan, dan kesabaran. Beliau mengisahkan perjalanan Imam Al-A’masy sebagai teladan seorang ulama yang gigih dalam menuntut ilmu. Dari kisah tersebut, beliau mengajak para santri untuk terus istiqamah, dan senantiasa bersabar dalam menghadapi tantangan disetiap proses pembelajaran.

Menutup rangkaian Muhadloroh ‘Ammah, Pendiri dan Pengasuh PPFF, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., M.A., menyampaikan bahwa inti pesan kedua ulama Al-Azhar tersebut adalah pentingnya _roghbah_ (keinginan yang kuat), kesabaran, serta adab dalam menuntut ilmu. Menurut beliau, ilmu akan datang kepada orang yang memiliki khasyatillah (rasa takut kepada Allah SWT) dan senantiasa menjaga adab.
Beliau mengutip ungkapan para ulama,
“ٱلْأَدَبُ فَوْقَ الْعِلْمِ”
“_Adab berada di atas ilmu_.”
Kyai Fadlolan juga menyampaikan sebuah pepatah Arab,
“اجعل علمك ملحًا وأدبك دقيقًا”
“_Jadikan ilmumu seperti garam dan adabmu seperti tepung_.”
Beliau menjelaskan bahwa sebagaimana tepung jumlahnya jauh lebih banyak daripada garam dalam sebuah adonan, demikian pula adab harus lebih dominan daripada ilmu. Sebab, ilmu tanpa adab tidak akan bermakna, sedangkan adab akan menjaga ilmu tetap kokoh dan membawa keberkahan.

Rangkaian Muhadloroh ‘Ammah ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syeikh Eid Kamil Barakat, Mab’uts Al-Azhar untuk PPFF. Dengan terselenggaranya Muhadloroh ‘Ammah ini, PPFF kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan ulama-ulama kelas dunia sebagai bagian dari penguatan tradisi keilmuan pesantren, sehingga para santri memperoleh wawasan keislaman yang luas dan mendalam sekaligus meneladani adab, dan semangat para ulama dalam menuntut ilmu.
(Rihanah-Santri PPFF***)


