Ustadz Tasir
4 Min Read
Tulisan Nailul Marom, santri kelas 3 MA Al-Musyaffa’ PPFF

 

Dulu, gelar ‘Kyai’ adalah maqam spiritual yang teramat berat; ia tidak diminta, tidak diobral, dan hanya disematkan oleh umat kepada mereka yang telah menghabiskan umurnya di atas sajadah dan lembaran kitab kuning. Namun hari ini, sebutan sakral itu mengalami inflasi sekaligus degradasi yang mengerikan. Cukup dengan modal jubah dan mendirikan lembaga berkedok agama, seseorang bisa melabeli dirinya ‘Kyai’—bukan untuk menuntun umat, melainkan berlindung di balik topeng kesucian demi memuaskan nafsu bejatnya. Kasus-kasus predator seksual berkedok ‘kyai’ yang viral belakangan ini memicu pertanyaan besar: apakah kita sedang menyaksikan runtuhnya moralitas pesantren, atau justru kita yang gagal membedakan mana ulama sejati dan mana serigala berbulu domba?

 

Secara objektif, kita harus memisahkan antara ulama asli dan palsu. Menyamaratakan semua orang yang dipanggil ‘kyai’ adalah kesalahan yang besar. Ada jurang pemisah yang jelas antara kyai yang lahir dari hasil didikan pesantren dengan kyai gadungan yang hanya bermodal jubah.

 

Perbedaan pertama adalah sanad (jalur) keilmuan dan kriteria keulamaan.  Kyai yang dididik di pesantren memiliki sanad keilmuan yang kuat dan tersambung dari guru-guru beliau hingga Nabi Muhammad SAW. Kiai Sahal Mahfudh pernah menegaskan bahwa secara hakiki, gelar kyai tidak sembarangan disematkan. Gelar itu merupakan julukan sakral bagi seseorang yang ‘alim ‘alamah (sangat tinggi ilmunya), berakhlak mulia, menguasai ilmu syariat, serta mengamalkan seluruh ilmunya. Selaras dengan hal tersebut, Gus Kautsar juga mengingatkan masyarakat agar tidak salah kagum; standardisasi utama seorang kyai atau kekasih Allah bukanlah keramat atau kesaktian seperti bisa terbang atau menghilang, melainkan kefahaman mereka terhadap ilmu fikih serta rasa takutnya kepada Allah.

 

Kondisi ini bertolak belakang dengan fenomena kyai gadungan yang bodoh (jahil) akan ilmu agama. Mereka biasanya hanya bermodal jubah dan kecakapan mulut saat berorasi. Padahal, menaruh urusan agama kepada orang yang bodoh sejak awal sudah pasti membawa dampak negatif (mudarat) yang jauh lebih besar bagi umat daripada dampak positifnya.

 

Perbedaan kedua terletak pada cara membimbing. Kyai sejati mengayomi murid-murid beliau dengan kasih sayang, mengajarkan toleransi, serta menghargai orang lain. Jika santrinya salah, beliau akan menasihati tanpa adanya kekerasan atau pemaksaan kehendak pribadi. Sebaliknya, kyai gadungan atau oknum nakal akan berlindung di balik doktrin “kepatuhan mutlak terhadap guru”. Mereka menggunakan dalil ‘barakah’ sebagai senjata untuk melancarkan aksi bejatnya. Ini adalah tindakan spiritual gaslighting yang nyata.

 

Terakhir, sejatinya pesantren itu ada untuk mengayomi masyarakat sekitar, bukan merusak nilai-nilai kehidupan, kemasyarakatan, dan nilai-nilai agama. Vice versa (sebaliknya), pesantren gadungan atau lembaga bentukan oknum bejat tersebut biasanya bersifat sangat tertutup, di mana tidak ada yang boleh mempertanyakan kebijakan si ‘kyai’. Lingkungan yang eksklusif inilah yang menciptakan ruang aman bagi mereka untuk meluncurkan niat bejatnya.

 

Pada akhirnya, kita sebagai warga negara Indonesia yang berdemokrasi seharusnya bisa melihat badai masalah ini dengan jernih dan adil. Menormalisasikan stigma bahwa pesantren adalah sarang predator adalah kesalahan yang sangat fatal. Dahulu, pesantrenlah yang melahirkan para pemikir, pemimpin, pejuang bangsa, serta penjaga moral negara ini.

 

Ketika terdapat oknum bersandang gelar kyai yang melakukan sebuah kejahatan, yang salah bukanlah institusi pesantrennya, melainkan penyalahgunaan gelar kyai oleh manusia-manusia tidak beradab tersebut.

Menyamaratakan pesantren-pesantren yang tulus mendidik santri sejak ratusan tahun lalu dengan oknum tidak jelas adalah sebuah ketidakadilan yang nyata. Esensi kata ‘kyai’ dan ‘pesantren’ harus kita kembalikan kepada nilai asli mereka: sebagai sumber ilmu, tempat berlindung, dan role model akhlak kita, bukan sarang para manusia bejat.

Share This Article
Verified by MonsterInsights