
SEMARANG – Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang, menerima kunjungan Wisata Ilmiah dan Studi Tiru dari MTsN 1 Pekalongan pada Senin (22/6/2026). Bertempat di Masjid Raudhatul Jannah PPFF, momen hangat ini menjadi panggung bagi kedua lembaga untuk saling berbagi inspirasi seputar dunia pendidikan Islam.
Dalam sambutannya, Pendiri dan Pengasuh PPFF, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., M.A., memaparkan filosofi pendidikan mendalam yang menjadi fondasi utama gerak PPFF. Beliau menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bertumpu pada kecerdasan intelektual, melainkan pada keagungan akhlak, adab, dan ketawadhuan seorang murid.

“Ilmu itu ibarat air yang selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah,” tutur Kyai Fadlolan. Kyai Fadlolan juga menekankan bahwa seorang pencari ilmu harus menaruh hormat yang tinggi kepada guru, memuliakan ilmu, dan senantiasa rendah hati agar ilmu yang didapat membawa berkah bagi kehidupan.
Di era digital yang penuh tantangan gawai saat ini, kehadiran sistem pesantren terpadu dinilai menjadi jawaban krusial untuk membangun kedisiplinan dan pengawasan yang kuat bagi anak-anak.
Lebih lanjut, Kyai Fadlolan yang memiliki latar belakang 17 tahun di Mesir dan 13 tahun sebagai dosen ini, mengupas tuntas model kurikulum khas PPFF. Pesantren ini berhasil mendesain kurikulum yang menutup kekurangan tipikal pondok modern, salaf, maupun tahfidh konvensional di Indonesia. PPFF mengadopsi sistem Bilingual (Arab-Inggris) berbasis karakter Salaf. Di sini, penguasaan bahasa asing diposisikan sebagai bonus modernitas, sementara kajian kitab kuning, seperti Sulamut Taufiq, Safinatun Najah, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, serta pembentukan akhlak tetap menjadi fondasi utama yang mutlak.
Salah satu keunggulan luar biasa yang dipaparkan adalah program Tahfidh Al-Qur’an 30 juz yang mampu dirampungkan oleh santri dalam waktu sangat singkat, yaitu hanya 5,5 hingga 6 bulan saja sampai prosesi wisuda.
Visi global PPFF bukan sekadar jargon. Melalui sistem pembelajaran mandiri yang menuntut keaktifan santri, PPFF mencatatkan rekam jejak fantastis: 100% kelulusan santri Aliyah yang mendaftar ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dari angkatan pertama hingga angkatan keempat yang siap diberangkatkan pada bulan November mendatang, seluruh santri yang mendaftar ke Al-Azhar selalu lulus seleksi tanpa meleset. Sementara bagi santri yang memilih kuliah di dalam negeri, mereka sukses menembus kampus favorit (seperti Undip, Unnes, UGM, Poltekkes) lewat jalur beasiswa tahfidh.
Kedisiplinan di PPFF pun diterapkan secara unik. Untuk melatih bahasa, santri yang tidak menggunakan bahasa resmi di kantin tidak akan dilayani (no service).

Usai pemaparan yang interaktif, rombongan MTsN 1 Pekalongan diajak berkeliling meninjau langsung area PPFF yang luas dan mandiri. Mata para peserta dimanjakan dengan fasilitas laboratorium alam, yakni 4 greenhouse baru, 50 kolam ikan, serta lahan pertanian sayur seluas lebih dari 1 hektar. Ada juga unit usaha air minum isi ulang yang dikelola secara mandiri oleh pesantren.
Kyai Fadlolan menceritakan budaya hidup sehat santri yang unik. Setiap jam istirahat, para santri terbiasa patungan uang Rp10.000 untuk memetik dan menikmati buah melon segar seharga Rp20.000 langsung dari Greenhouse saat musim panen buah tiba. Kebiasaan mengonsumsi makanan segar serta larangan ketat mengonsumsi mi instan ini membuahkan hasil nyata. Berdasarkan pemeriksaan resmi dari Dinas Kesehatan Kota Semarang dan Provinsi, santri PPFF dinyatakan 0% bebas dari anemia.
Kunjungan studi tiru ini diakhiri dengan sesi ramah tamah dan makan siang bersama. Melalui agenda ini, PPFF berharap dapat terus menginspirasi lembaga pendidikan lain, membuka ruang kolaborasi, serta bersama-sama melahirkan generasi masa depan yang berilmu, berakhlak mulia, sehat secara fisik, mandiri secara ekonomi, dan siap berkontribusi bagi agama dan bangsa.


