
Semarang – Pada Kamis (16/7), Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF), Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang, menerima kunjungan dari Yoso Farm Klaten yang didampingi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Tengah. Kunjungan tersebut bertujuan menjajaki kolaborasi dalam pengembangan sistem Integrated Farming yang telah diterapkan di lingkungan PPFF.
Rombongan disambut oleh Pendiri dan Pengasuh PPFF, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA., kemudian diajak meninjau secara langsung berbagai unit budidaya yang menjadi bagian dari ekosistem Integrated Farming di lingkungan pesantren. Peninjauan dilakukan di kawasan Integrated Farming Kampus 3 yang meliputi empat Green House, 40 kolam budidaya ikan, serta kebun sayur. Rombongan juga mengunjungi Green House yang terletak di Kampus 2 PPFF.

Dalam peninjauan tersebut, rombongan melihat secara langsung bagaimana setiap sektor saling terintegrasi dalam satu ekosistem. Konsep Integrated Farming yang dikembangkan PPFF memadukan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan sehingga mampu menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan.
Salah satu implementasi sistem tersebut terlihat pada pemanfaatan air dari kolam budidaya ikan yang kaya unsur hara untuk mengairi sekaligus menyuburkan tanaman sayuran, seperti kangkung, bayam, sawi, dan terong.
Limbah dapur dan sampah PPFF yang mestinya bermasalah, namun Kyai Fadlolan mendidik santri PPFF menjadikan penghasilah. Dari masalah menjadi berkah. Sampah organik dibuat makan ayam, mentok, angsa, bebek, dan semua jenis unggas. Yang amat buruk dan bau basi dibuat makan maggot. Sedangkan sampah anorganik seperti botol plastrik, kadus, kaleng dll, dijual rapel untuk.membayar listrik PPFF.
Limbah air hujan dan air mandi ditampung dalam ipal akhir untuk siram tanaman buah dan sayur, dll.

Dengan demikian, tidak ada limbah yang terbuang cuma-cuma, bahkan sangat bermanfaat seperti limbah kurasan kolam ikan pada zona perikanan tidak terbuang percuma, melainkan dimanfaatkan kembali sebagai siraman pupuk alami bagi tanaman sayur. Prinsip ini sejalan dengan konsep zero waste, di mana setiap sektor saling mendukung sehingga tidak ada sumber daya yang terbuang sia-sia.
Selain mendukung kelestarian lingkungan, sistem Integrated Farming juga mampu meningkatkan efisiensi biaya operasional serta memperkuat kemandirian pangan. Melalui ekosistem yang saling terhubung, setiap unit budidaya memberikan manfaat bagi unit lainnya sehingga tercipta siklus produksi yang berkesinambungan.
Pada kesempatan tersebut, Kyai Fadlolan menyampaikan bahwa pengembangan Integrated Farming di PPFF merupakan ikhtiar pesantren dalam membangun kemandirian pangan dan ekonomi berbasis pemberdayaan. Melalui konsep yang terintegrasi, setiap potensi yang dimiliki pesantren diupayakan saling mendukung sehingga memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi pesantren maupun masyarakat.
Kyai Fadlolan juga menegaskan bahwa setiap ikhtiar dalam mengelola alam semesta harus dilandasi orientasi kemaslahatan. Sebagaimana dawuhnya, “Berpikirlah dan bertindak secara positif agar dapat membahagiakan seluruh makhluk hidup, bukan hanya sesama manusia. Segala yang kita kelola dan manfaatkan dari alam semesta hendaknya membawa kemaslahatan, sehingga hamba-hamba Allah dapat hidup dengan bahagia, merasa nyaman, dan menikmati segala nikmat yang Allah SWT anugerahkan, terutama manusia.” Nilai tersebut menjadi ruh dalam pengembangan Integrated Farming di PPFF, yaitu mengelola sumber daya alam secara bijaksana agar memberikan manfaat yang berkelanjutan sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.
Melalui kunjungan ini, diharapkan terjalin kolaborasi yang semakin erat antara PPFF dan Yoso Farm Klaten dalam mengembangkan inovasi Integrated Farming. Berlandaskan semangat kolaborasi dan kemaslahatan sebagaimana dawuh Kyai Fadlolan, sinergi ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan, memperkuat kemandirian pangan dan ekonomi pesantren, serta menghadirkan manfaat yang luas bagi masyarakat, lingkungan, dan seluruh makhluk hidup. Allahumma Amin.


