
Semarang — Reuni Akbar Santri Kyai Fadlolan Musyaffa’ (SKF) Lintas Angkatan 2010–2026 menjadi lebih dari sekadar ajang temu kangen antar alumni Mahad Al Jami’ah Walisongo Semarang dan Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF) Pesantren Bilingual Berbasis Karakter Salaf Semarang. Kegiatan yang berlangsung pada Ahad (31/5/2026) ini menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi, membangun jejaring kebermanfaatan, serta meneguhkan peran alumni dalam menghadapi tantangan zaman.
Rangkaian reuni diawali sejak Sabtu malam melalui agenda makan malam bersama dan Open Networking, kemudian dilanjutkan dengan mujahadah, ngaji tafsir, temu alumni, dialog, serta peninjauan berbagai unit kemandirian pesantren. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan tampak mewarnai pertemuan para alumni dari berbagai angkatan yang kembali berkumpul di almamater mereka.
Dalam arahannya, Pendiri dan Pengasuh PPFF, DR. KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., M.A., menegaskan bahwa reuni tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial atau nostalgia semata. Menurut beliau, silaturahmi yang terjalin harus mampu melahirkan kolaborasi, memperkuat persaudaraan, dan membuka ruang kerja sama yang memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat.
Kyai Fadlolan mengingatkan bahwa para alumni memiliki tanggung jawab untuk terus menjaga identitas kesantriannya di mana pun berada. Nilai-nilai yang ditanamkan selama mondok harus tetap menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan, baik dalam dunia pendidikan, pekerjaan, usaha, maupun pengabdian sosial.

Selain itu, beliau mendorong para alumni untuk memiliki keberanian membangun kemandirian ekonomi dan tidak hanya bergantung pada peluang yang disediakan pihak lain. Menurutnya, santri harus memiliki semangat untuk menciptakan karya, membuka usaha, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Umat Islam harus bangkit. Harus memiliki kecerdasan finansial dan kemandirian ekonomi,” tegas Kyai Fadlolan di hadapan para alumni.
Pesan tersebut mendapat perhatian besar dari para peserta reuni. Sebab, di tengah berbagai perubahan dan tantangan zaman, kemampuan membangun jaringan, mengelola potensi, dan menciptakan kemandirian menjadi salah satu kebutuhan penting bagi umat.

Dalam kesempatan yang sama, hadir pula Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag., Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, yang memberikan motivasi kepada para alumni untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan memperluas kontribusi bagi masyarakat. Ada pesan penting kepada alumni: “Kalian tidak usah cari figur jauh-jauh, cukuplah ikuti cara berfikir, gaya hidup, berkiprah dimasyarakat, kemandirian dan semangat perjuangan dengan mengikuti Ktai Fadlolan Musyaffa’ yang sudah terbukti memiliki dasar keilmuan yang tinggi, prestasi di masyarajat menjadi tokoh agama denfan karya nyata membuat lembaga pendidikan yang sangat fantastis dalam 7 tahun sudah seperti ini besarnya. Cukuplah Kyai Fadlolan menjadi qudwah teladan bagi kalian.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, para alumni diajak meninjau berbagai unit kemandirian yang dikembangkan PPFF, mulai dari BUMP Adammart, urban farming, greenhouse, peternakan, hingga kawasan ekonomi sirkuler. Berbagai unit tersebut menjadi wujud nyata ikhtiar pesantren dalam mengintegrasikan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui Reuni Akbar ini, PPFF kembali menegaskan bahwa hubungan antara pesantren dan alumni tidak berakhir setelah masa pendidikan selesai. Alumni merupakan bagian dari keluarga besar pesantren yang terus terhubung dalam semangat silaturahmi, kolaborasi, dan perjuangan bersama.

Lebih dari sekadar pertemuan lintas angkatan, Reuni Akbar SKF menjadi ikhtiar untuk merawat jati diri santri, memperkuat jejaring kebermanfaatan, dan menumbuhkan semangat kemandirian sebagai bekal membangun umat yang berilmu, berakhlak, dan berdaya.
(Lintang Angguningtyas-santri PPFF***)


